Rabu, 27 Mei 2009

AGAMA ADALAH NASEHAT

AGAMA ADALAH NASIHAT

Oleh: Abdullah Saleh Hadram

Dari Abu Ruqayyah, Tamim bin Aus Ad-Daari Radhiallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda:

Agama adalah nasehat?. Kami Bertanya: Untuk siapa?? Beliau menjawab: Untuk Allah, kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin seluruhnya. (HR. Muslim)

Syarh dan Kandungan Hadis:

1. Al-Khaththabi ?Rahimahullah berkata: ?Nasihat ialah kata yang menjelaskan sejumlah hal, yaitu menginginkan kebaikan pada orang yang diberi nasihat.? Beliau juga berkata: Asal kata nasihat menurut bahasa ialah murni. Nashahtu-l?asala (arti harfiyyahnya: saya menasihati madu), maksudnya anda memurnikan madu tersebut dari lilin.

2. Nasihat untuk Allah Ta?ala ialah beriman kepadaNya, mengesakan dan tidak menyekutukanNya dengan suatu apapun, menyifatiNya dengan sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan, mensucikanNya dari apa saja yang berlawanan dan menyalahi sifat-sifatNya, menjauhi semua maksiat, mentaati dan cinta kepadaNya dengan ikhlas, mencintai dan membenci karenaNya, memerangi siapa saja yang kafir kepadaNya, berdakwah mengajak kepadaNya, mendorong manusia untuk berjihad di jalanNya, mengakui nikmat-nikmatNya dan bersyukur kepadaNya dll. Semua yang kita Ilakukan ini adalah untuk kepentingan diri kita sendiri, karena Allah Maha Kaya dari nasihat siapapun.

3. Nasihat untuk Kitabullah ialah beriman kepadanya, mengagungkan dan mensucikannya, meyakini bahwa yang diturunkannya, tidak samaIAl-Qur’an adalah firman Allah sedikitpun dengan ucapan manusia, membacanya dengan bacaan yang sebenar-benarnya, mentadabburinya (memikirkan) larangan-larangan dan perintah-perintahnya, membelanya, mempercayai seluruh isinya, mengamalkan hukum-hukumnya, memahami ilmunya, mengambil ibrah (pelajaran) dari nasehat-nasehatnya, mempertahankan dari perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang melampaui batas dan pelecehan oleh orang-orang kafir dan berdakwah mengajak manusia kepadanya dll.


4. Nasihat untuk Rasululah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam ialah beriman kepada beliau dan apa saja yang beliau bawa dari Allah, mengagungkan, menghormati dan taat kepada beliau, mengerjakan segala perintah-perintahnya dan meninggalkan segala larangan-larangannya, menghidupkan sunnah-sunnah beliau, menyebarkannya dan berdakwah mengajak semua manusia kepadanya, tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syari?at beliau, mengikuti akhlak dan etika beliau, beramal sesuai dengan sunnah beliau, sangan marah dan berpaling dari siapa saja yang beragama dengan menyalahi sunnah beliau, mencintai keluarga dan sahabat beliau dll.

5. Diantara bentuk nasihat untuk Allah, KitabNya dan RasulNya dan ini secara khusus adalah tugas para ulama- ialah membantah seluruh hawa nafsu yang menyesatkan (bid?ah-bid’ah) dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, membantah pendapat-pendapat yang lemah dan ketergelinciran para ulama dengan menyebutkan dalil-dalilnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, menerangkan hadis yang shahih dari yang tidak shahih dll.

6. Nasihat untuk para pemimpin kaum muslimin ialah membantu mereka dalam kebenaran, taat kepada mereka dalam hal tersebut, selalu mengingatkan dan menasihati mereka dengan santun, tidak menyerang atau memberontak mereka, mendoakan kebaikan untuk mereka, cinta persatuan umat kepada mereka, benci perpecahan umat kepada mereka, marah kepada orang yang membelot dari mereka dll.

7. Ibnu Abbas ?Radhiallahu ‘Anhuma pernah ditanya tentang menyuruh penguasa kepada kebaikan dan melarangnya dari kemungkaran (amar makruf nahi mungkar terhadap penguasa), beliau menjawab: Jika engkau harus melakukannya, maka lakukanlah secara berdua-duaan (empat mata / sembunyi-sembunyi).

8. Yang dimaksud dengan pemimpin kaum muslimin adalah para penguasa atau siapa saja yang mengantikan atau mewakili mereka.

9. Nasihat untuk seluruh kaum muslimin ialah membimbing mereka kepada kemaslahatan-kemaslahatan, mengajari mereka dalam urusan agama dan dunia mereka, menutupi aib dan cacat mereka, mencintai untuk mereka apa yang dicintai untuk dirinya sendiri, membenci untuk mereka apa yang ia benci untuk dirinya sendiri, berbelas kasih terhadap mereka, menyayangi anak-anak kecil mereka, menghormati orang-orang tua dari mereka, sedih karena kesedihan mereka dan bahagia karena kebahagiaan mereka, menolong mereka dalam menghadapi musuh-musuh mereka, membela mereka, tidak menipu dan dengki kepada mereka dll.

10. Nasihat yang paling agung adalah memberi nasihat kepada orang yang meminta nasihat. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: Jika salah seorang dari kamu meminta nasihat kepada saudaranya maka hendaklah saudaranya menasihatinya. (HR. Imam Ahmad dll, shahih).

11. Termasuk adab nasihat adalah memberi nasihat kepada sesama muslim dengan sembunyi-sembunyi dan tidak didepan umum. Para salafush shalih jika ingin menasihati seseorang, mereka menasihatinya secara rahasia, hingga salah seorang dari mereka berkata: ?Barangsiapa menasihati saudaranya secara berdua-duaan (empat mata), itulah nasihat. Barangsiapa menasihatinya di depan manusia, sungguh ia sedang menjelek-jelekkannya.

12. Al-Fudlail bin ?Iyad berkata: ?Orang mukmin menutupi aib dan menasihati, sedang orang jahat membongkar aib dan menjelek-jelekkan.

13. Termasuk adab nasihat pula hendaklah dalam memberi nasihat menempuh cara yang santun, dengan hikmah, peringatan-peringatan yang baik, tidak terburu-buru dalam menghukumi sesuatu, tanpa emosi dan amarah.

14. Nasihat adalah termasuk amar makruf nahi mungkar yang dengannya umat ini mendapatkan kebaikan sehingga menjadi umat yang terbaik.

15. Abu Bakar Al-Muzani Rahimahullah berkata: Abu Bakar Ash-Shiddiq ?Radhiallahu Anhu tidak mengungguli sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dengan puasa dan shalat, namun dengan sesuatu yang ada dalam hatinya. Ibnu Ulaiyyah ?Rahimahullah mengomentari: ?ang ada di hati Abu Bakar Ash-Shiddiq ?Radhiallahu ?Anhu adalah cinta karena Allah dan memberi nasihat untuk makhlukNya.

10 penghalang untuk mengikuti kebenaran

10 PENGHALANG UNTUK MENGIKUTI KEBENARAN

BAB I

LATAR BELAKANG MASALAH

1.1 Profil Buku

Buku yang akan dibedah isinya ialah buku yang berlatar belakang Islam dengan judul “TABIR HIDAYAH” serta memiliki subtitle “10 PENGHALANG UNTUK MENGIKUTI KEBENARAN.” Buku ini dikarang oleh Fariq Gasim Anuz, diterbitkan oleh Pustaka Imam Asy-syafi’I, Bogor Pada tahun 2002. Buku ini memiliki tebal 80 lembar untuk isi dan 2 lembar untuk cover, didalamnya berisi tiga pokok masalah dan 12 sub pokok masalah. Buku dengan judul Tabir Hidayah ini mengambil referensi dari buku-buku al-imam ibnu Qayyim al-jauziah rahimahullah. Adapun sinopsis dari buku ini selengkapnya sebagai berikut “…..Sesungguhnya orang-orang yang beriman sangat mendambakan untuk dapat meniti (dalam) kehidupan yang fana ini di atas jalan yang benar, di jalan keridhaan-nya. Segala macam tantangan dan rintangan menghadang kita gagal meraih cita-cita mulia, dari dalam diri kita sendiri datang tantangan berupa hawa nafsu yang cenderung keburukan, ditambah dengan musuh-musuh dari luar berupa syaitan-syaitan dari jin dan manusia yang bekerja mati-matian siang dan malam untuk menyesatkan manusia dari jalan kebenaran. Mereka bekerja sama dan saling tolong menolong dalam hal dosa dan permusuhan. ” Adapun harapan dari penulis untuk para pembacanya bahwasannya buku ini bisa memberikan pelajaran yang berharga bagi kita, dijadikan sebagai bahan introspeksi diri dan bukan untuk menilai orang lain, sementara kita lupa akan kekurangan dan kelemahan diri sendiri yang tidak sedikit jumlahnya.

1.2 Masalah Pokok

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, buku ini memiliki tiga masalah pokok, diantaranya:
Sepuluh Penghalang untuk Mengikuti kebenaran Bahaya Ambisi Terhadap Harta dan Kehormatan Beberapa Penyebab Zuhud

1.2 Sub Pokok Masalah

Mengenai sub pokok masalahnya pada buku ini memiliki 12 butir dengan rincian 10 butir dari pokok masalah tentang Sepuluh penghalang untuk mengikuti kebenaran yang rinciannya sebagai berikut: Kurangnya ilmu dan lemahnya pemahaman tentang kebenaran tersebut Hati yang kotor akibat maksiat Sombong dan dengkI Lebih mencintai kehormatan dari pada kebenaran Syahwat dan harta Cinta kepada keluarga dan karib kerabat melebihi cintanya kepada kebenaran Lebih mencintai negara dan tanah air dari pada mencintai kebenaran Mencintai nenek moyang melebihi cintanya kepada kebenaran Adanya permusuhan antara seseorang dengan yang lain, kemudian musuhnya mengikuti kebenaran Penghalang berupa adat istiadat.

Kemudian untuk dua butirnya lagi berasal dari pokok masalah Bahaya ambisi terhadap harta, serta dalam sub masalah ini terdapat sub masalah selanjutnya, seperti berikut Ambisi terhadap harta Sangat cinta terhadap harta dan memforsir diri serta berlebih-lebihan dalam mencarinya, meskipun dengan jalan yang hala Disamping yang pertama, dia mencari dari jalan yang haram dan menahan hak-hak yang wajib ia berikan kepada orang lain Ambisi terhadap kehormatan Mencari kehormatan melalui jabatan, kekuasaan dan harta Mencari kehormatan dan kedudukan yang tinggi di mata manusia melalui jalan agama, seperti ilmu, amal shalih dan juhud

BAB II

PEMBAHASAN

Sepuluh Penghalang untuk Mengikuti Kebenaran

Ini merupakan suatu jawaban atas adanya masalah yang selama ini menggelayuti kehidupan manusia sebagai suatu penghalang untuk mencapai kemaslahatan dunia dan akhirat. Setiap muslim pasti menginginkan agar dalam hidup di dunis ini dirinya benar-benar berada diatas jalan yang haq atau di atas Shirathal Mustaqim, bahkan kita selaluberdoa kepada Allah dalam shalat kita minimal tujuh belas kali sehari dengan doa: “Ihdinash shirathal mustaqim (Berilah kami petunjuk ke jalan yang lurus).” Itulah doa yang selalu kita panjatkan, agar kita dapat tetap berjalan di atas kebenaran, mengikuti jalan Islam yang haq, untuk taat kepada Allah,Untuk meninggalkan perbuatan maksiat kepada-Nya, untuk mengikuti jejak Rasullallah dan para sahabatnya, untuk menjauhi segala bentuk bid’ah dan kesesatan, untuk merealisasikan itu semua tidaklah mudah, karena dia harus menghadapi banyak rintangan dan godaan yang selalu menghalanginya dari kebenaran tersebut. Di antaranya terdapat sepuluh sebab yang menghalangi manusia untuk mengikuti kebenaran, antara lain sebagai berikut:

1. Kurangnya ilmu dan lemahnya tentang kebenaran tersebut

Kita telah mengetahui, bahwa seorang muslim wajib untuk menuntut ilmu, karena ilmu adalah cahaya, sedangkan kebodohan ialah kegelapan. Dengan ilmu ia dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Rasullulah berseru bahwa “Menuntut ilmu itu ialah kewajiban bagi semua muslim.”
Ada duajenis tentara kebatilan yang masuk ke dalam hati manusia, yaitu para tentara syahwat yang durjana dan tentara syubhat yang bathil. Orang yang hatinya condong pada syubhat, maka hati, lisan amalan-amalannya berupa keraguan, syubhat-syubhat dan tendensi-tendensi hawa nafsu. Adapun orang yang jahil (bodoh) menyangka bahwa orang tersebut memiliki ilmu yang sangat luas! Padahal sesungguhnya kosong dari ilmu dan keyakinan.

Adapun orang-orang yang diberikarunia oleh Allah berupa bashirah dapat menyingkap hakekat dibalik segalasesuatu apakah berupa kebenaran atau kebatilan.. Apabila kita hendak menelaah hakekat suatu pengertian, apakah dia itu haq atau bathil, lepaskanlah dari semua pengaruh ungkapan kata-kata, lepaskan diri kita dari sikap apriori aau simpati, kemudian setelah itu berikan akal haknya untuk mempertimbangkan hal tersebut dengan pertimbangan yang obyektif.

2. Hati yang kotor akibat maksiat

Al-Imam Ibnu Qayyim mengatakan: “Biasa jadi pengetahuan dia tentang ilmu tersebut sempurna, tetapi tidak cukup dengan ilmu pengetahuan saja untuk bisa mengikuti kebenaran. Ada syarat lain, yaitu harus bersih atau dia itu telah siap untuk menerima kebenaran, siap untuk dibersihkan. Apabila dia sendiri belum dibersihkan, maka kebenaran yang datang akan sulit diterima, apalagiuntuk diikuti. ”

Dalam hal ini hati manusia dimana bila ia banyak berbuat dosa dan maksiat, jauh dari aturan-aturan Allah, maka hatinya menjadi kotor.Bila perbuatan itu terus-terusan terjadi maka ia tidak mengenal lagi mana yang baik dan yang munkar, selanjutnya ilmu yang dimilikinya pun tidak akan bermanfaat lagi.

3. Sombong dan dengki

Sombong dan dengki menghalangi manusia untuk mengikuti kebenaran. Oleh karena itu hati kita harus dibersihkan dari sifat sombong. Adapun hal yang menyebabkan manusia bersifat sombong antara lain, karena ia merasa memiliki ilmu, baik ilmu dunia maupun ilmu agama yang lebih dari yag lainnnya. Selain itu ialah harta, keturunan, ketampanan dan kecantikan. Untuk mengendalikan hal itu kita harus senantiasa ingat bahwa kita ini manusia, tempatnya berbuat salah dan dosa serta diciptakan dari tanah dan tidak ada keunggulan darinya selain keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt yang hanya Allah-lah tyang tahu siap manusia bertaqwa

Selain itu sifat buruk yang akan menghalangi kebenaran ialah sifat dengki. Pada sifat ini akan merugikan diri sediri dan orang lain. Dimana dirinya akan merasa tersiksa karena hatinya selalu tidak tenang bila melihat orang lain senang atau mendapat kebakan dan merugikan orang lain karena orang yang dengki akan melakukan apa saja untuk mencegah kebahagiaan atau kebenaran yang didapatkan oleh orang lain.

4. Lebih mencintai kehormatan dari pada kebenaran

Hal ini terjadi pada orang yang tidak ingin kehilangan kewibawaannya bila ia mengikuti jalan yang benar karena kebanyakan orang-orang berada di luar jalan yang benar. Maka solusinya ialah menguatkan hati untuk tetap istiqomah dijalan kebenaran apapun resiko yang akan dihadapi. Syahwat dan harta

Syahwat dan harta bila tidak dikendalikan dengan baik makaakan menimbulkan mala petaka pada orang yang bersangkutan dimana ia akan terhalang dari kebenaran. Godaan syahwat bisa dicontohkan bila mana seorang muslim ataupun muslimah yang digelapkan mata hatinya karena jatuh cinta pada orang diluar Islam sehingga ia rela untuk meninggalkan keislamannya. Sedangkan contoh harta yang membawa petaka ialah bila mana kita lebih mengutamakan harta kita dibandingkan kebenaran yang harus dijalankan. Jalan yang harus kita tempuh untukmenghindari hal tersebut ialah bersabar dalam keadaan apapun tetap yakin bahwa kebenaran akan membawa kebahagiaan yang abadi.

5. Cinta kepada keluarga dan karib kerabat melebihi cintanya kepada kebenaran
Jika kita akan mengikuti kebenaran yang harus berbenturan dengan keluarga atau dengan karib kerabat,dipastikan akan mengalami masa-masa sulit. Dimana hal ini akan menjadi sebuah dilema bagi seseorang yang mengalaminya dimana dua hal yang paling penting dalam hidupnya harus dipilih salah satu jalan kebenarankah atau keluarga yang akan dipilih. Namun bila orang tersebut benar-benar memiliki keimanan yang kuat maka dipastikan ia akan memilih jalan kebenaran sebagai pilihan utamanya dengan menyadari berbagai resiko atau konsekuensi yang akan dihadapi.

6. Lebih mencintai negara dan tanah air dari pada mencintai kebenaran

Pada bagian ini menerangkan tentang seseorang yang lebih memilih negara dan tanah airnya dari pada menjalankan apa yang seharusnya dilakukan menurut islam. Biasanya kenyataan seperti ini rentan pada orang yang imannya masih lemah. Oleh karena itu untuk menghindari masalah ini maka pertebalah keimanan kita terhadap Islam.

7. Mencintai nenek moyang melebihi cintanya kepada kebenaran

Seseorang pada pikirannya memiliki keyakinan kalau dia mengikuti dien yang Islam benar, berarti ia melecehkan nenek moyangnya. Sehingga karena kecintaannya kepada nenek moyangnya itu ia tidak bisa menerima Islam.

Contoh nyata kasus ini pada jaman Rasullullah SAW dimana paman Nabi , yaitu Abu Thalib yang meyakini bahwa Nabi Muhammad itu benar ajarannya, bahkan ia selalu membela dan melindungi Rasullullah SAW dari gangguan orang-orang kafir. Akan tetapi ia sangat mencintai nenek moyangnya dari kalangan kafir yang menyembah berhala. Ketika menjelang meninggalnya pun, Nabi Muhammad SAW Bersabda: “Katakanlah, Laa ilaha illallah, maka engkau akan selamat ” Akan tetapi ada dua orang musyrikin yang hadir dihadapannya. Mereka berkata kepada Abu Thalib : “Apakah Engkau benci kepada Agama nenek moyang kita?” Akhirnya ia mati dalam keadaan musyrik.

8. Adanya permusuhan antara seseorang dengan yang lain, kemudian musuhnya mengikuti kebenaran.

Disebabkan oleh adanya permusushan pribadi antara seseorang dengan musuhnya, pada akhirnya orang tersebut tidak mau mengikuti kebenaran seperti musuhnya. Hal ini disebabkan oleh tabiat orang yang bermusuhan itu, masing-masing selalu ingin tampil berbeda dengan musuhnya. Misal seseorang menjadi tidak berkenan untuk pergi ke majelis ta’lim karena musuhnya pun pergi kemajlis ta’lim. Seharusnya hal yang seperti ini tidak perlu terjadi karena kita harus memiliki pegangan teguh terhadap jalan kebenaran walaupun musuhnya pun melakukan hal serupa. Sebagaimana Sabda Allah SWT dalam QS. Al-Hujuraat:10 yang berbunyi “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah diantara kedua saudaramu. ” Hal yang harus diperhatikan dalam menanggapi masalah ini ialah mencoba mengintrospeksi diri serta berpikiran obyektif kepada diri sendiri dan orang lain serta berlaku benar pada semua.

9. Penghalang berupa adat istiadat

Seseorang sejak keciltelah terbiasa menjalankan ajaranyang bersumber dari adat istiadat sehingga sudah mendarah daging, kemudian datang seorang pemuka agama Islam yang harus merubahnya, membawanya untuk mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah, maka usaha ini bukanlah perkara yang mudah. Seorang juru dakwah harus membekali dirinya dengan sabar dalam merubah pola pikir orang-orang yang didakwahinya. Harus dipahami, bahwa untuk merubah tingkah laku seseorang itu perlu waktu, tidak semudah yang kita kira. Di sini dituntut adanya kesabaran . Demikian juga seseorang yang sudah terbiasa mengikuti adat-istiadat harus bisa meninggalkannya apabila ternyata bertentangan dengan syari’at Islam. Diperbolehkan untuk mengikuti adat istiadat selamaitu tidak bertentangan dengan syariat Islam. Adapun Firman Allah SWT yang menyatakan tentang adat istiadat ialah pada QS. Al-An’aam:116 yang berbunyi “Dan jika kamu menurut kebanyakanorang-orang yang adadimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”

10. Bahaya Ambisi terhadap Harta dan Kehormatan

Seperti yang tertera dalam sebuah hadis dari Ka’ab Malik al-Anshari bahwasannya Nabi Muhammad SAW mencontohkan kerusakan pada dien seorang muslim dengan sebab ambisi terhadap harta dan kehormatan di dunia. Hadis ini mengisyaratkan, bahwa orang yang berambisi terhadap harta dan kehormatan tidak akan selamat dari keutuhan keislamannya, kecuali hanya sedikit yang selamat.

Ambisi terhadap harta

Ambisi terhadap harta terbagi menjadi dua, antara lain sebagai berikut:
Sangat cinta terhadap harta dan memforsir diri serta berlebih-lebihan dalam mencarinya meskipun dengan cara yang halal Walaupun akibat yang muncul dari ambisi terhadap harta hanyalah tersia-sianya waktu dalam hidup ini, padahal hal yang memungkinkan bagi manusia untuk memanfaatkan waktu tersebut untuk mencapai kedudukan yang yang lebih tinggi dan kenikmatan yang abadi di sisi Allah SWT, cukuplah hal tersebut sebagai celaan terhadap perbuatan ambisi terhadap harta.
Disamping yang pertama, dia mencari harta dari jalan-jalan yang haram dan menahan hak-hak yang wajb ia berikan kepada orang lain

Ada beberapa hakikat pada bahasan ini antara lain, Hakekat asy-syuhh ialah kecenderungan jiwa kepada apa-apa yang diharamkan oleh Allah dan tidak puasnya seseorang dari apa-apa yang dihalalkan oleh Allah, baik berupa harta, hubungan seksual dan selainnya. Kemudian setelah itu ia melampaui batas dengan melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. Sedangkan Al-bukhlu merupakan menahan diri dari mengeluarkan harta yang dimilikinya.

Ambisi terhadap kehormatan

Ambisi terhadap kehormatan dibagi menjadi dua macam:

Mencari Kehormatan melalui jabatan, kekuasaan dan harta

Ketahuilah, bahwa ambisi terhadap kehormatan sangat membahayakan pelakunya, dalam usahanya dalam mencapai tujuan, juga sangat membahayakan pelakunya, ketika telah mendapatkan kehormatan di dunia, dengan cara mempertahankan statusnya meskipun harus melakukan kezhaliman, kesombongan dan kerusak-rusakan yang lain, sebagaimana dilakukan oleh penguasa yang zhalim.

Diantara bahaya dari ambisi terhadap kehormatan adalah biasanya orang yang memiliki kehormatan karena harta atau kekuasaannya, ia akan suka dipuji karena perbuatannya dan ia menginginkan pujian dari manusia, meskipun terkadang perbuatan itu lebih tepat disebut sebagai perbuatan tercela dari pada perbuatan terpuji. Orang yang tidak mengikuti keinginannya, dia tidak segan-segan menyakiti dan menterornya. Mencari kehormatan dan kedudukan yang tinggi di mata manusia melalui jalan agama, misalnya seperti; ilmu, amal shalih dan zuhud Bentuk seperti ini lebih keji dari yang pertama, lebih buruk, lebih berbahaya dan lebih besar kerusakannya. Karena sesungguhnya ilmu, amal shalih dan zuhud hanyalah dimaksudkan untuk mendapatkan ganjaran di sisi Allah SWT, berupa kedudukan yang tinggi, kenikmatan yang langgeng dan kedekatan dengan-Nya.

Pada bagian ini pun terbagi dua, antara lain sebagai berikut:

Dimaksudkan untuk mencari harta. Ini termasuk ke dalam ambisi terhadap harta dan mencarinya dengan jalan yang diharamkan. Dimaksudkan untuk mencari pengaruh pada manusia dan agar dihormati oleh mereka, agar mereka tunduk patuh kepadanya, agar ia menjadi pusat perhatian manusia, untuk menampakan kepada manusia kelebihan ilmunya melampaui para ulama, maka orang seperti ini bagiannya adalah neraka.

Beberapa Penyebab Zuhud

Untuk memperoleh sikap zuhud, terdapat beberapa sebab, diantaranya:
Dengan merenungi tentang akibat buruk di akhirat dengan sebab kehormatan dunia, berupa jabatan dan kekuasaan bagi orang yang tidak melaksanakan tugasnya dengan benar. Dengan merenungi tentang hukuman yang diperoleh bagiorang-orang yang zhalim dan sombong. Dengan merenungi tentang pahala yang akan didapatkan oleh orang-orang yang ketika di dunia rendah hati,ikhlas karena Allah, yaitu dengan mendapatkan derajat yang tinggi di akhirat, karena sesungguhnya, barangsiapa yang rendah hati karena Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya. Zuhud didapat bukan karena kemampuan seorang hamba, akan tetapi merupakan karunia Allah dan rahmat-Nya. Orang yang zuhud akan memperoleh kehidupan yang baik di dunia sesuai dengan janji Allah kepada orang-orang yang beriman dab beramal shalih.

BAB III

TANGGAPAN DAN SARAN

3.1 Tanggapan

Dalam pemaparan isi buku diatas bila dilihat dari segi penulisan pokok masalah dan sub pokok masalah insyaallah akan mudah dipahami oleh berbagai kalangan masyarakat Islam dimana pokok masalahnya ditampilkan secara lugas, misal “sepuluh penghalang untuk mengikuti kebenaran.” Kita dapat perhatikan bahwa pemilihan katanya mudah dimengerti, lalu maknanya jelas yaitu mengenai penghalang menuju jalankebenaran baik eksternal maupun internal. Namun apabila kita melihatnya dari sudut pandang isi dari buku tersebut ada beberapa bagian kekurangan misal dalam penulisan kataseprti “tolak ukur” ditulis tolok ukur. Penyajian penulisannya yang kurang menarik sehingga membawa efek bosan.

3.2 Saran

Adapun beberapa saran yang ditujukan untuk penulis, antara lain:

Penyajian isi buku agar lebih tampil menarik lagi, seperti diberi background, jarak spasinya jangan terlalu dekat, memberikan pemilihan kata yang mudah dimengerti oleh berbagai pihak.
Istilah-istilah asingnya lebih diperjelas lagi maknanya, memberikan penjel
asan yang lebih lengkap lagi.