Rabu, 30 Desember 2009

Menyikapi Tahun Baru Masehi

Menyikapi Tahun Baru Masehi
1. Bagaimanakah Kita Menyikapi Tahun Baru Masehi
Diantara kebiasaan orang dalam memasuki tahun baru di berbagai belahan dunia adalah dengan merayakannya, seperti begadang semalam suntuk, pesta kembang api, tiup terompet pada detik-detik memasuki tahun baru, wayang semalam suntuk bahkan tidak ketinggalan dan sudah mulai ngetrend di beberapa tempat diadakan dzikir berjama’ah menyongsong tahun baru. Sebenarnya bagaimana Islam memandang perayaan tahun baru?
Bolehkah Merayakannya?
Tahun baru tidak termasuk salah satu hari raya Islam sebagaimana ‘Iedul Fitri, ‘Iedul Adha ataupun hari Jum’at. Bahkan hari tersebut tergolong rangkaian kegiatan hari raya orang-orang kafir yang tidak boleh diperingati oleh seorang muslim.
Suatu ketika seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menanyakan kepadanya: “Apakah disana ada berhala sesembahan orang Jahiliyah?” Dia menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya, “Apakah di sana tempat dirayakannya hari raya mereka?” Dia menjawab, “Tidak”. Maka Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tunaikan nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dan dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam”. (Hadits Riwayat Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan terlarangnya menyembelih untuk Allah di tempat yang bertepatan dengan tempat yang digunakan untuk menyembelih kepada selain Allah, atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di dalam mengagungkan syi’ar-syi’ar kekufuran. Perbuatan ini juga menyerupai perbuatan mereka dan menjadi sarana yang mengantarkan kepada syirik. Apalagi ikut merayakan hari raya mereka, maka di dalamnya terdapat wala’ (loyalitas) dan dukungan dalam menghidupkan syi’ar-syi’ar kekufuran. Akibat paling berbahaya yang timbul karena berwala’ terhadap orang kafir adalah tumbuhnya rasa cinta dan ikatan batin kepada orang-orang kafir sehingga dapat menghapuskan keimanan.
Keburukan yang Ditimbulkan
Seorang muslim yang ikut-ikutan merayakan tahun baru akan tertimpa banyak keburukan, diantaranya:
1. Merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (menyerupai) dengan orang-orang kafir yang telah dilarang oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.
2. Melakukan amal ketaatan seperti dzikir, membaca Al Qur’an, dan sebagainya yang dikhususkan menyambut malam tahun baru adalah pebuatan bid’ah yang menyesatkan.
3. Ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita seperti yang kita lihat pada hampir seluruh perayaan malam tahun baru bahkan sampai terjerumus pada perbuatan zina, Na’udzubillahi min dzaalika…
4. Pemborosan harta kaum muslimin, karena uang yang mereka keluarkan untuk merayakannya (membeli makanan, bagi-bagi kado, meniup terompet dan lain sebagainya) adalah sia-sia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Serta masih banyak keburukan lainnya baik berupa kemaksiatan bahkan kesyirikan kepada Allah. Wallahu a’lam…

Selasa, 29 Desember 2009

RENUNGKANLAH WAHAI SAHABATKU

Sohibku …
aku memang bukan ulama’ yang hafal beribu-ribu hadits dan menulis berjilid-jilid kitab, walaupun begitu aku tetap saudaramu seakidah yang mencintai kebaikan bagimu sebagaimana aku menyenanginya bagi diriku

Sohibku …
bisa jadi engkau lebih banyak memiliki hafalan daripadaku bisa jadi engkau lebih senior dan lebih cerdas daripadaku dan lebih memahami tentang agama islam, namun kukira engkau masih mau merenungkan nasehat dari saudaramu

Sohibku …
sadarkah engkau bahwa kematian mengintai dirimu hari kebangkitan dan perhitungan ada di hadapanmu semuanya harus dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya

Sohibku …
semua tingkahmu terlihat, tidak ada satupun yang tidak tercatat, pintu kamar bisa kau tutup dan kau kunci, lampu pun bisa kamu padamkan, tapi ada sepasang mata yang selalu mengawasimu, meskipun engkau tidak pernah melihatnya, engkau tidak bisa bersembunyi kemanapun engkau lari, dengan kemaksiatan dan kesia-siaan.

Sohibku …
kebenaran ada di hadapanmu, majelis ilmu bertebaran di sekelilingmu, tidakkah engkau tergerak untuk menghampirinya mereguk cahaya ilmu dan merasakan kesejukannya

Sohibku, …
aku memang bukan dosen yang bisa memaksamu mengerjakan tugas ini dan itu, aku juga bukan rektor yang bisa mengusirmu dari bangku kuliah, aku bukan siapa-siapa,tapi aku hanya sekedar sahabat dan saudaramu yang sedih menyaksikan cara hidupmu

Sohibku …
kesempatan dan kesehatan selama ini mungkin terlalu terbuka lebar bagimu sehingga dengan seenaknya kau sia-siakan dan kau telantarkan

Sohibku …
kehidupan penuh dengan tantangan, sementara ilmu sangat dibutuhkan, ilmu tentang Ar Rohman dan tentang bagaimana menjalani kehidupan tentang bagaimana berakhlak mulia

Sohibku …
aku memang bukan ulama’ bukan juga ahli ilmu walaupun begitu aku tetap saudaramu seakidah yang mencintai kebaikan bagimu sebagaimana aku menyenanginya bagi diriku

Sohibku … jangan sia-siakan kesempatan ini mungkin tahun depan atau bahkan besok engkau tidak bisa menemukannya lagi, lalu ketika itu penyesalanmu tiada berguna lagi, mengapa dulu aku tidak bersungguh-sungguh menimba ilmu

Sohibku …
dunia itu hina, walaupun semua orang mengatakannya berharga, dunia tetap hina dan akhiratlah yang lebih mulia dunia akan binasa sedangkan akhirat kekal selamanya. Apakah yang kau kejar wahai sohibku, sementara kematian mengejarmu ?